The Memories

Ini FF yaoi nc pertama saya ;u; Bahkan sebenarnya saya masih dibawah umur, hehe ._.v Terimakasih kepada HunHan dan asianfanfics yang sudah memberi inspirasi yadong(?) ini. Dan maafkan hambamu ini ya Allah karena berpikiran yadong TuT Baiklah yeoreobun, enjoy~ Also please give me ur comment ^^;;

[ini sebenernya nggak terlalu yadong sih eheh =w= lebih ke hurt/comfort tbh. okay enjoy!]

~~~

Cast : Luhan, Sehun. HunHan [YAOI] (Extra : Another EXO’s members)

“I didn’t know what friendship was untill I met Luhan” – Sehun

“I want you to always by my side” – Luhan

~~~

            Musim dingin kembali datang. Angin malam yang sangat dingin menerpa tubuh Sehun yang sedang duduk di depan gedung SM Entertainment. Sehun tersenyum sembari memainkan salju yang berjatuhan. Dia teringat, musim dingin 7 tahun yang lalu. Saat dia bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sangat spesial untuknya. Sehun masih tersenyum, membayangkan sosok orang itu. Dan tetesan air mata pun jatuh bersamaan dengan senyuman Sehun. Sehun menghapus air matanya, mencoba mengenang masa lalunya. Masa lalu yang indah, bersama Luhan.

Sehun sibuk bermain dengan boneka saljunya yang baru saja dia buat. Anak berumur 11 tahun itu bermain dengan senangnya walau dia hanya bermain sendirian. Sehun memang anak yang pendiam, oleh karena itulah dia tidak mempunyai banyak teman. Sehun bernyanyi kecil sembari menyempurnakan boneka salju buatannya. Namun tiba-tiba topi Sehun terbang terbawa hembusan angin. Sehun berusaha mengejar topi itu. Sehun terus mengejarnya hingga topi itu jatuh diatas kepala seseorang. Sehun ingin mengambilnya tapi dia sangat malu.

“Oh, ada topi diatas kepalaku” kata orang itu sembari mengambil topi Sehun dari atas kepalanya

“Hey itu milikku!” sentak Sehun dengan suara pelan

Orang itu menatap Sehun. Lalu dia tersenyum, “Ini milikmu? Topi ini lucu sekali”. Sehun hanya terdiam. “Kenapa diam saja?” Sehun masih terdiam. Orang itu pun mencoba mendekati Sehun. Karena malu, Sehun mulai mundur sedikit. “Kenapa? Ada apa? Kau takut padaku?” tanya orang itu dengan tawa. Sehun menatap orang yang sedang tertawa itu. Sehun hanya terdiam memandanginya. Orang itu menyadari Sehun sedang memandanginya, dia pun berhenti tertawa dan tersenyum pada Sehun.

Sehun dapat merasakan kehangatan dari pancaran mata orang itu. Dan senyuman orang itu, sangat manis dan membuat hatinya tenang. Orang itu mulai mendekat lagi kearah Sehun. Sehun menunduk malu. Orang itu mengembalikan topi Sehun dengan memakaikannya diatas kepala Sehun. Sehun tertunduk malu.

“Kau terlihat imut sekali memakai topi itu” katanya dengan senyuman yang imut

“Gomawo” jawab Sehun masih tertunduk

“Oh, siapa namamu?” orang itu menatap wajah malu Sehun yang sedang tertunduk

“Se..Sehun” jawab Sehun dengan suara yang pelan dan terdengar sedikit gugup

“Nah Sehun. Perkenalkan, aku Luhan” Sehun menatap kearah orang yang bernama Luhan itu. Luhan tersenyum sembari melambaikan tangannya. Sehun pun akhirnya ikut tersenyum. “Umurmu berapa?” tanya Luhan kemudian

“Aku 94lines” jawab Sehun datar

“Wah muda sekali~” Luhan mencubit pipi Sehun gemas. Muka Sehun memerah. “Uh, sedih rasanya mengetahui bahwa aku lebih tua!” sentak Luhan sembari melempar bola salju yang daritadi ia pegang

“Memangnya… umurmu berapa?” Sehun angkat bicara

“Aku 90lines. Lihat kan? Aku lebih tua darimu. Jadi, kau harus memanggilku Hyung. Mengerti, Sehun?” Luhan tersenyum lagi pada Sehun

“Mm.. baiklah, Luhan hyung?” Kali ini Sehun tertawa

            Setelah saling berkenalan, mereka pun bermain salju bersama. Dan Sehun sangat senang dapat mengenal Luhan. Menurut Sehun, Luhan adalah anak yang baik dan ramah. Dan Sehun sangat senang ketika melihat senyuman Luhan. Senyuman manis yang sangat hangat.

            Senja telah tiba, mereka pun berhenti bermain. Kini Luhan dan Sehun duduk bersama disebuah bangku didekat rumah Luhan. Mereka mencoba mengenal lebih dalam satu sama lain.

“Accentmu beda dari orang Korea kebanyakan. Kau darimana? China kah?” tanya Sehun

“Iya, aku memang baru pindah dari China. Orang tuaku baru saja bercerai” jawab Luhan masih dengan senyumannya

“Oh, mianhe. Aku menyesal telah bertanya hal itu” Sehun tertunduk

“Gwenchana, hal itu sudah berlalu. Untuk apa memikirkannya. Iya kan?” Luhan pun tertawa

Sehun menatap Luhan, anak yang tabah, gumamnya. “Lalu, kenapa kau lancar sekali berbahasa Korea?”

“Ayahku orang China, sedangkan ibuku orang Korea. Dan kini aku tinggal bersama ibuku”

            Mereka terus berbincang-bincang hingga matahari sudah mulai tenggelam. Akhirnya Sehun pamit untuk pulang. Luhan mengajak Sehun untuk main lagi besok, dan Sehun menyetujuinya. Bahkan Sehun tidak sabar untuk bermain lagi bersama Luhan.

Aku tidak tau apa itu persahabatan sampai aku bertemu dengan Luhan, gumam Sehun

Tiba-tiba Kai mengejutkan Sehun dengan mengajaknya masuk ke gedung SMEnt untuk berlatih. Lamunan Sehun tentang Luhan pun buyar seketika. Sehun segera masuk ke gedung untuk mulai berlatih. Saat dia masuk ke ruang latihan, dia kembali teringat Luhan. Sehun menunduk, mencoba menahan air matanya. Namun dia gagal, air mata itu mulai berjatuhan. Sehun teringat saat umurnya menginjak 13 tahun. Sehun kembali mengingat Luhan.

Minggu pagi yang sangat cerah. Saat itu adalah musim panas yang berseri. Seperti biasa, pagi itu Sehun dan Luhan menaiki sepeda bersama. Luhan tidak bisa mengendarai sepeda. Jadi Luhan membonceng pada Sehun. Namun Sehun melihat kerumunan orang sedang berkumpul di depan gedung SMEnt. Dia pun menghentikan sepedanya.

“Ada apa? Kenapa berhenti?” tanya Luhan

“Hyung, coba lihat itu. Menurutmu, ada apa disana?” Sehun balik bertanya

“Eo? Molla. Mau mengeceknya?” Luhan turun dari sepeda Sehun dan mulai berjalan mendekati kerumunan itu. Sehun menyusul di belakangnya

            Didepan pintu gedung SMEnt, terpampang sebuah poster besar bertuliskan, “OPEN AUDITION”. Ternyata poster itu tawaran untuk mendaftar menjadi artis naungan SMEnt. Sehun dan Luhan menatap poster itu lekat. Membaca secara detail isi poster itu. Setelah mereka cukup mengingat isi poster itu, mereka mencoba keluar dari kerumunan yang semakin lama semakin padat.

“Wah, SMEnt sedang mencari artis baru!” Luhan berteriak dengan semangat

“Kau mau ikut audisi itu?” tanya Sehun

“Tentu saja! Kau tau kan, bahwa aku sangat ingin menjadi seorang artis?” Suara Luhan terdengar sangat bersemangat, “Kau mau ikut juga kan?” tanya Luhan pada Sehun

Sehun terdiam, “Kenapa aku harus mengikutinya? Aku tidak punya bakat” jawab Sehun datar, menatap gedung megah bertuliskan ‘SM Entertainment’

“Sehun-ah, apa maksudmu kau tidak memiliki bakat? Dancemu sangat bagus. Aku mengakui bahwa bakat dancemu sangat hebat! Kenapa kau tidak mau mencobanya?”

“Sebenarnya.. aku tidak berminat” Sehun tertunduk

“Kenapa?” Luhan terlihat sedih mendengar ucapan Sehun

“Aku.. entahlah” jawaban Sehun membuat hening yang sangat panjang

“Tapi.. aku ingin kau tetap berada disampingku” Luhan memecah keheningan. Sehun masih terdiam. Sehun mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak tau harus mengatakan apa. ”Sehun..”

Sehun menatap Luhan, “Apa?”

“Kalau kau memang tidak mau ikut, maka aku juga tidak akan ikut. Aku ingin tetap bersamamu” kata Luhan, tersenyum pada Sehun. Sehun terdiam, rasa bersalah menyeruak dihatinya

“Kenapa tidak? Kau bisa melakukannya tanpa aku. Lagipula, kalau kau diterima, aku akan terus mengunjungimu”

“Tidak. Aku tidak akan ikut kalau kau tidak ikut. Jika kau tidak mau, maka aku juga tidak mau”

“Hyung, ini mimpimu. Kejarlah. Aku tidak ingin menjadi penghalang untukmu” Sehun menaruh tangannya di pundak Luhan

“Tidak mau” Luhan menepis tangan Sehun dan jawaban Luhan mengakhiri percakapan mereka hari itu

            Setelah mengantar Luhan pulang, Sehun terus memikirkan percakapannya tadi pagi dengan Luhan. Dia merasa bersalah karena menjadi penghalang untuk mimpi Luhan. Luhan memang lebih tua dari Sehun. Tapi sifat kekanakan Luhan masih melekat padanya. Dan sifat itu membuat Sehun ingin terus menjaga Luhan. Dan Luhan pasti juga tau, dia selalu membutuhkan Sehun. Oleh karena itu, Luhan memutuskan tidak tanpa Sehun.

            Sehun menatap cermin, mencoba memikirkan suatu solusi. Tapi kemudian, ada sebuah panggilan. Panggilan untuk Sehun. Suara musik mulai bermain di otaknya. Dia tidak tau ini apa. Sehun berdiri, menatap cermin. ‘Perlihatkan bakatmu, aku tau kau memilikinya’ kata seseorang yang entah siapa. Suara itu terdengar jelas di telinga Sehun. Entah ada apa, Sehun mulai menggerakan badannya. Melakukan beberapa gerakan dance yang telah ia kuasai. Sembari menatap cermin, dia mengetahui sesuatu. Dia berhenti, tersenyum dan menggumam. Ya, aku memilikinya. Bakat itu ada padaku.

            Mengetahui hal itu, Sehun segera berlari menuju rumah Luhan. Luhan yang sedang duduk di teras rumahnya terkejut melihat Sehun berlari menuju kearahnya. Dan sesampainya Sehun disana, dia langsung memeluk Luhan. Membuat Luhan semakin terkejut.

“Ada apa?” tanya Luhan sedikit malu

Sehun melepas pelukannya. Menatap Luhan lekat, “Kau tidak akan percaya jika aku mengatakannya. Berjanjilah bahwa kau percaya padaku”

“Apa? Oh baiklah, aku janji. Lagipula, aku selalu percaya padamu. Sekarang, ada apa?” Luhan sangat penasaran

“Aku akan mengikuti audisi itu! Ya, aku akan mengikutinya! Kau benar, bakat itu ada padaku! Aku melihatnya sendiri. Aku memang hebat!” Sehun kembali memeluk Luhan dengan tawa

Luhan tersenyum bangga, “Ini artinya, kita akan mengikutinya bersama?”

“Tentu saja!” Kini Sehun lah orang yang paling bersemangat

            Keesokan harinya, Sehun dan Luhan pergi ke gedung SMEnt bersama. Mengikuti audisi pencarian bakat itu berdua. Luhan menunjukkan suara emasnya, dan Sehun memperlihatkan betapa lihai tubuhnya. Tentu saja, dengan bakat mereka itu, dengan mudah mereka lolos. Mereka berdua pun berpelukan setelah mengetahui bahwa mereka lolos.

Sehun tersenyum, ingatan itu terus saja muncul. Seperti video yang selalu minta untuk di replay. Kai yang daritadi memperhatikan Sehun segera menghampirinya.

“Ada apa? Kau mengingatnya lagi?” tanya Kai sembari duduk disebelah Sehun dan menepuk pundak Sehun

Sehun menoleh, menatap Kai. Menunduk lalu terdiam.

“Kau pasti sangat merindukannya” kata Kai lagi. Kai dapat melihat tetesan air mata yang berjatuhan diatas sepatu Sehun.

“Ya, kau benar Kai. Aku merindukannya”

            Luhan terduduk lemas setelah manager memberikan istirahat untuk para trainee. Dia sangat kelelahan. Sehun menghampiri Luhan, membawakannya air putih. Member lain yang merasa kelelahan segera keluar untuk mendinginkan badan karena di ruang latihan udaranya sangat panas.

“Kau lelah?” tanya Sehun sembari menyodorkan botol air minum. Tanpa pikir panjang, Luhan mengambilnya dari tangan Sehun dan langsung meminumya. Sehun hanya menatap Luhan yang sedang mencoba menghabiskan air minumnya.

“Ah..” Luhan mendesah, “Tentu saja aku lelah. Aku tidak tau bahwa menjadi artis sangatlah susah. Sudah 4  tahun kita trainee. Sebenarnya, kapan kita bisa debut?” tanya Luhan sembari menatap bayangan dirinya di dalam cermin

“Tunggu saja, kita pasti akan debut” jawab Sehun sembari melanjutkan latihan. Luhan menatap Sehun

“Ajari aku gerakan itu” kata Luhan kemudian. Sehun berhenti berlatih dan menghampiri Luhan.

“Baiklah, ayo berlatih bersamaku” Sehun membantu Luhan berdiri dengan senyumannya

            Mereka berdua pun berlatih bersama. Dan setelah merasa cukup lelah, mereka akhirnya berhenti sejenak. Keringat bercucuran banyak. Sehun dan Luhan segera mengambil tisu dari saku mereka setelah melihat mereka berkeringat sangat banyak. Luhan spontan mengusap wajah Sehun dengan tisunya. Begitu juga dengan sebaliknya. Hingga suasana menjadi hening sesaat. Mereka menatap satu sama lain. Tentu saja mereka sangat malu.

“Hyung..”

            Sehun menatap Luhan. Sebuah dentuman keras menghantam jantungnya. Jantungnya berdetak keras. Sangat keras hingga membuat Sehun takut jika Luhan dapat mendengarnya. Dia mencoba melawan perasaannya. Perasaan yang salah. Perasaan yang seharusnya tidak dia rasakan. Sehun, ada apa denganmu? Kenapa dengan perasaan ini? Kenapa jadi begini? Ini salah! Hentikan! Sehun menutup telinganya, menggeleng keras dan berlutut. Melawan perasaannya dengan keras. Luhan bingung melihat tingkah Sehun.

“Sehun, ada apa?” Sehun menunduk diam, dia tidak berani menatap Luhan. “Sehun, katakan, kau kenapa? Kau sakit?”

            Dengan gemetar, dia mencoba menatap Luhan. Sehun menangis, perasaan itu memang benar. Dia tidak dapat mengelak. Perasaan itu memang ada. Sehun tau ini salah dan dia tidak bisa mengelak bahwa dia memiliki perasaan yang salah itu. Melihat Sehun yang menangis, Luhan semakin bingung.

“Kau kenapa? Katakan padaku!”

Sehun masih menatap Luhan. Deraian air matanya semakin deras, “Aku tidak tau apa yang terjadi. Aku.. aku.. aku menyukaimu hyung. Iya, aku menyukaimu. Entah sejak kapan. Mungkin saat pertama kali aku bertemu denganmu. Aku.. aku ingin memilikimu. Katakan, apa perasaan ini salah?” Sehun menangis, merasa hal ini salah. Luhan terdiam, “Iya, aku tau aku salah. Mianhe. Aku…”

            Omongan Sehun terpotong oleh bibir Luhan yang menempel pada bibir Sehun. Sehun terkejut dan menghentikan tangisannya sejenak. Tapi kemudian dia menitikkan air matanya lagi sembari memegangi dagu Luhan. Iya, ini yang dia mau. Luhan tidak tau apa yang dia lakukan. Dia hanya ingin melakukannya saat melihat wajah kekanakan Sehun menangis sambil menyatakan perasaannya.

Sehun berhenti, menatap Luhan lekat, “Kau..”

Luhan tersenyum. Dia bangkit sembari menarik Sehun untuk berdiri, “Aku..menyukaimu” kata Luhan masih dengan senyumannya

Sehun tersenyum, menutup matanya dan kemudian melanjutkan ciuman itu. Tangisan berhenti, dia melupakan apa yang ada disekitarnya. Dia hanya ingin Luhan. Berdua dengan Luhan. Sehun sangat menikmati ciuman itu. Dia dapat merasakan rasa mint dalam mulut Luhan saat lidahnya masuk kedalam mulut Luhan. Sehun mendorong Luhan hingga tubuh Luhan menempel pada cermin. Sekarang kedua tangan Sehun ada pada pinggang Luhan. Dan kedua tangan Luhan ada di leher Sehun. Mereka berdua sangat menikmatinya. Ya, ciuman pertama mereka. Saat Sehun mulai nekat membuka pakaian Luhan, Luhan menutup pakaiannya dan menghentikan ciuman itu.

“Tidak disini” katanya lemah

“Tapi aku menginginkannya..” Sehun kembali mencium Luhan. Luhan ingin menahan Sehun, tapi dia tidak berdaya. Dia hanya melanjutkan ciuman itu. Sehun kembali mencoba untuk melepas pakaian Luhan. Tapi Luhan menghentikannya lagi.

“Ada apa? Kenapa tidak?” tanya Sehun sedikit kecewa

“Tidak, jangan disini. Aku tidak mau yang lain melihatnya” kata Luhan sembari melepaskan tangannya dari leher Sehun. Sehun juga melepaskan tangannya.

Mereka berdua duduk bersama disudut ruangan. Mencoba merenungkan apa yang baru saja mereka lakukan.

“Kau tau hyung? Ini salah” kata Sehun membuka pembicaraan

Luhan meletakkan kepalanya di pundak Sehun, “Aku tau” jawabnya

“Tapi.. kenapa kita melakukannya?” Sehun menunduk, merasa bersalah

“Apa kau menyesalinya?” tanya Luhan sembari menatap Sehun

Sehun menatap Luhan. Wajah Luhan terlihat cemberut dan memerah. Sehun tersenyum melihatnya, “Jangan berpikir begitu. Aku tidak menyesalinya”

Luhan juga tersenyum pada Sehun, Luhan memeluk Sehun erat, “Aku tau ini salah. Tapi.. biarkan hal ini benar untuk kita”

Kenangan itu, sangat menyakitkan untuk Sehun. Dia bahkan selalu mengingatnya. Setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Dia akan selalu mengingatnya. Ya, ciuman pertamanya dengan Luhan. Sehun menatap pemandangan malam melalui jendela di ruang latihan. Dia tersenyum, “Berapa jauh kah China?” tanyanya pada Kai

Kai yang sedang berlatih menghentikan kegiatannya, menghampiri Sehun. Menepuk pundak sang maknae dengan prihatin, “Entahlah. Tapi yang aku tau, itu sangat jauh” jawabnya pelan

Sehun tersenyum, masih menatap kearah luar jendela itu, “Aku harap aku dapat melihat negeri China dari sini”

Kai menatap Sehun. Dia juga mempunyai kenangan itu. Kenangan tentang HunHan. Sehun dan Luhan.

Luhan bangun sangat pagi saat itu. Dia membangunkan sang maknae Sehun dengan aegyo attack. Sang maknae yang gemas dengan keimutan Luhan segera bangun dan mencubit pipi Luhan.

            “Aigoo… imutnya dirimu” tawa Sehun sembari mengacak rambut Luhan

            “Yah! Aku ini lebih tua darimu. Hormati aku sedikit” Luhan cemberut dengan isengnya

            Sehun hanya tertawa melihat tingkah Luhan. Kai melihat hal itu dengan perasaan aneh. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sehun dan Luhan terlihat sangat dekat. Entah kenapa, Kai merasa hubungan mereka lebih dari seorang sahabat.

            Saat Sehun akan mandi, Suho sang member EXO-K juga akan mandi saat itu. Sehun merasa sedikit kecewa karena dia harus mandi dengan Suho dan bukan Luhan. Maka Sehun segera memanggil member yang belum mandi saat itu.

“D.O hyung, mandilah bersama Suho hyung. Aku akan mandi nanti” kata Sehun sembari keluar dari kamar mandi

“Kau kenapa? Tidak ingin mandi denganku?” tanya Suho sembari mengangkat sebelah alisnya

“Ah tidak. Aku hanya ingin mandi dengan Luhan hyung”

            Kai dengan spontan menoleh kearah Sehun. Lagi-lagi dia menangkap HunHan moment. Yang menurutnya, terlalu real untuk menjadi moment keisengan. Sehun segera menghampiri Luhan yang sedang sibuk mempersiapkan sarapan. Kai terus memperhatikan Sehun dan Luhan tanpa sepengetahuan mereka berdua. Sehun dengan isengnya menaruh dagunya di pundak Luhan. Luhan menoleh kearah Sehun yang ada dipundaknya dengan tertawa kecil. Entah kenapa, Kai merasa khawatir.

            “Hyung, kau belum mandi kan? Ayo mandi bersamaku” ajak Sehun setelah melihat D.O dan Suho keluar dari kamar mandi

            “Ah baiklah” jawab Luhan dengan suara aegyonya

            Setelah Sehun dan Luhan masuk ke kamar mandi, Kai mencoba mengintai apa saja yang mereka lakukan di dalam. Kai mengintainya melalui kamera kecil yang sengaja dia pasang di sudut ruangan. Kai sangat terkejut melihat apa yang baru saja dia lihat. Dia melihat dengan jelas Sehun memeluk Luhan. Tidak hanya itu. Dia juga melihat Luhan membalikkan badannya dan mencium Sehun. Kai membeku menyaksikannya. Air mata tiba-tiba menetes di pipi Kai. Kai merasa kecewa dengan mereka berdua. Seharusnya mereka tau hal itu salah!, gumam Kai.

            Kai menghentikan pengintaiannya dan kembali duduk di sofa ruang tengah. Selesainya HunHan mandi, Kai melihat Sehun dengan riangnya mengeringkan rambut Luhan dengan handuknya. Dan Luhan terlihat senang sembari menatap Sehun. Kai sangat muak melihatnya. Kai ingin menampar mereka berdua sembari berteriak, SADARLAH!

            Kai terus merenung. Mencoba untuk tidak mempercayainya. Tapi dia tau itu nyata. Ya, sudah jelas hal itu sangat nyata.

“Mianhe, ini semua salahku Sehun” jawab Kai tertunduk. Sehun masih tersenyum menatap pemandangan malam itu. Dia hanya terdiam. Kai menatap Sehun, “Sehun, mianhe. Sehun…”

“Gwenchana” jawab Sehun datar. Kai dapat melihat air mata menetes di pipi Sehun. Hal itu membuat Kai merasa sangat bersalah. Kai menyesal telah melakukan hal itu. Kai menyesal telah menghancurkannya.

            Kai tidak tahan lagi saat melihat Sehun memeluk Luhan dan Luhan menyandarkan kepalanya pada lengan Sehun bahkan dada Sehun. Kai tidak merasa cemburu, melainkan jijik melihatnya. Apakah hubungan sesama jenis itu normal? Tentu tidak! Dan Kai ingin segera mengakhiri hubungan mereka sebelum menjadi lebih jauh

            Segera setelah Kai melihat kejadian itu, dia melapor ke manager EXO tentang hubungan Sehun dan Luhan. Awalnya sang manager tidak percaya pada Kai. Tapi setelah Kai memperlihatkan rekaman saat mereka mandi, sang manager merasa sangat marah pada HunHan. Manager segera menghampiri HunHan yang sedang tertidur. Dengan kasarnya, sang manager mengguncang tubuh mereka hingga mereka terkejut dan terbangun. Kai mengintip kejadian itu dari luar ruangan.

            “Manager hyung. Waeyo?” Tanya Luhan sembari mengusap matanya agar dapat melihat sang manager dengan jelas

            “Apa saatnya latihan?” Sehun ikut bertanya sembari menguap

            “DASAR TIDAK BERGUNA! BYEONGSIN!” Sang manager menampar HunHan dengan kerasnya. Keduanya terkejut sembari memegang pipi mereka yang terasa panas setelah mendapat tamparan dari sang manager.

            Member EXO yang lain segera berdatangan untuk menengok ada kejadian apa. HunHan terlihat bingung. Begitu juga member yang lain. Dan Kai, hanya terdiam disana. Tidak menyangka bahwa manager akan sekasar itu.

            “Hyung, ada apa?” tanya Chanyeol

            “Mereka.. dua orang bodoh ini. Mereka gay!” teriak sang manager sembari menunjuk HunHan

            HunHan terkejut mendengarnya. Mereka hanya terdiam. Tidak hanya HunHan, semua member terkejut. Semua member menatap HunHan dengan tatapan prihatin. Luhan mulai menitikkan air matanya. Sehun yang melihat Luhan menangis segera menghapus air matanya dan memeluknya. Sang manager semakin marah melihatnya.

            “HENTIKAN KEGILAAN INI!” Sang manager mencoba melepaskan tangan Sehun tapi Sehun mencoba menahannya

            “Kegilaan apa? Ini bukan kegilaan! Ini fakta. Aku mencintai Luhan hyung” Sehun ikut menyentak kearah sang manager

            Suasana hening dan mencekam. Sang manager hanya dapat menahan amarahnya melihat tingkah gila HunHan. Dan member yang lain hanya dapat menggelengkan kepala. Entah apa yang harus mereka lakukan pada HunHan.

            “Sehun,” Manager membuka pembicaraan

            Sehun menatap sang manager, “Ada apa?” tanyanya sembari memeluk Luhan semakin erat. Dia takut sang manager akan menyakiti Luhan

            “Kau harus berpisah dengan Luhan”

            “MWO?” Sehun membelalakkan matanya. Luhan menatap sang manager sembari menangis dalam pelukan Sehun

            “Kau Sehun,” manager menunjuk Sehun, “Kau akan ada dalam EXO-K dan kau Luhan,” manager juga menunjuk Luhan, “Kau akan masuk dalam EXO-M. Kau akan kembali ke China”

            HunHan dan semua member terkejut, “Apa maksudnya semua ini?” Baekhyun angkat bicara

            “Kalian akan dipisah menjadi dua grup. 6 member EXO-K, dan 6 member di EXO-M” jawab sang manager

            “Apa itu EXO-K? Dan apa itu EXO-M? Kenapa kami harus dipisah?” tanya Kai kemudian

            “EXO-K artinya EXO-Korea. Jadi, EXO-K akan fokus pada negeri Korea. Dan EXO-M artinya Mandarin. EXO-M akan fokus di negeri China. Jadi bagi para trainee yang berasal dari China, kalian akan kembali ke negera asal kalian. Dan untuk alasannya, tanyakan mereka berdua!” sang manager menatap tajam kearah HunHan

            “Tapi hyung, trainee dari China hanya ada Luhan, Kris, Tao dan Lay. Dan 2 orang lagi, siapa?” tanya Suho

            “Aku sudah mengaturnya, lihat saja listnya besok. Dan setelah pembagian grup, kalian tidak diperbolehkan menggunakan handphone!” sang manager berlalu dan kembali ke ruangannya

            Kai menatap HunHan. Mereka berdua menangis karena harus dipisahkan. Walau merasa jijik, tapi Kai merasa iba pada mereka. Kai merasa sangat bersalah telah membuat mereka berpisah seperti ini. Member yang lain juga menyalahkan HunHan atas kejadian ini. HunHan hanya dapat menangis, mencoba menerima kenyataan bahwa mereka akan segera dipisahkan.

            Kai berjalan perlahan untuk lebih mendekat kearah Sehun. Sehun menoleh dan menatap Kai. Dia hanya terdiam. Kai memandang pemandangan luar seperti yang dilakukan Sehun tadi. Kai tersenyum dan kemudian menatap Sehun yang sedang menatapnya. Sehun menatap Kai dengan pandangan kosong.

“Kau tau Sehun?” Kai menunduk, masih tersenyum, “Cinta sejati tidak akan terpisahkan” Kai kembali menatap pemandangan malam dengan lampu indah yang berkelap-kelip

Sehun mengernyitkan dahinya, “Apa maksudmu?”

Kai tersenyum lagi sembari menatap Sehun, “Percayalah” kemudian Kai berlalu keluar ruangan

Sehun kembali menatap kearah luar, mencoba mencerna perkataan Kai. Dia hanya terdiam. Lagi-lagi Luhan muncul dalam pikirannya. Ingatan itu, semua tentang Luhan, teringat lagi dan lagi.

Di bandara Incheon, Luhan tidak bisa membendung air matanya saat dia menyeret koper besarnya. Dia harus kembali ke negara asalnya. Dia akan tergabung dalam EXO-M yang memang harus fokus menyanyi berbahasa Mandarin. Sehun hanya mengikuti Luhan dari belakang. Menatap koper besar bertuliskan nama Luhan dalam tulisan Mandarin. Sehun menatap langit-langit bandara, menahan air matanya.

            Luhan berhenti sejenak. Sehun spontan berhenti setelah melihat koper Luhan berhenti. Sehun menatap Luhan dengan berat. Sehun dapat melihat derasnya air mata Luhan.

            “Sehun..” suara Luhan terdengar berat

            “Ada apa?” jawab Sehun masih menatap Luhan

            Luhan menarik tangan Sehun menuju luar bandara. Luhan mencoba mencari tempat yang sepi. Dan akhirnya dia menemukan sebuah tempat luas dimana tidak ada orang disana. Disana, Luhan langsung memeluk Sehun erat. Luhan menangis sekeras mungkin. Sehun akhirnya meneteskan air matanya. Dia membalas pelukan Luhan.

            “Aku tidak ingin berpisah darimu. Aku tidak mau” tangis Luhan terisak-isak

            Sehun memeluk Luhan semakin erat, “Aku juga… aku juga. Tapi mau bagaimana lagi. Kita harus tetap berpisah”

            Luhan melepas pelukannya, “Jika memang kita harus berpisah, maka biarkan aku..” Luhan segera menyambar bibir Sehun

            Sehun sedikit terkejut dengan aksi Luhan. Tapi Sehun mencoba menikmati ciuman yang mungkin menjadi ciuman terakhir untuk mereka. Mereka berpelukan sembari menikmati ciuman itu. Ciuman perpisahan memang menyakitkan untuk dinikmati. Dengan air mata menetes, Luhan merasakan lidah Sehun yang masuk kedalam mulutnya. Sehun mencium Luhan dengan lembut, agar Luhan dapat mengenang ciuman itu. Setelah dirasa cukup, mereka menghentikannya.

            “Aku harap kau akan mengingatnya” kata Sehun sembari mengusap air mata Luhan, “Sudah, jangan menangis lagi”

            “Aku takut jika aku tidak akan bisa merasakan ciuman itu lagi. Aku takut tidak akan kembali” Luhan mencoba menghentikan tangisannya, tapi tidak bisa

            Sehun tersenyum, mengusap bibir Luhan lembut, “Kau akan kembali, aku yakin”

            Luhan menangis, dia memeluk Sehun untuk yang kedua kalinya. Mereka terus berpelukan hingga Kai memanggil nama mereka. Segeralah mereka kembali masuk ke bandara. Dan inilah saatnya.. mereka harus berpisah.

            Sehun mengusap air matanya. Kenangan itu terlalu pahit untuk diingat. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin bisa melupakannya. Wajah imut Luhan, semangat yang selalu Luhan bagikan untuknya, pelukan hangat Luhan, dan ciuman lembut itu.. mana mungkin dia bisa melupakannya?

Tiba-tiba Kai masuk kembali ke ruang latihan. Sehun spontan menoleh kearah Kai. Kai tersenyum lebar kearah Sehun. Sehun sedikit bingung.

“Ada apa Kai?”

“Masih ingat kata-kataku barusan?”

Sehun berpikir sejenak, “Aku ingat. Tapi aku tidak mengerti maknanya”

“Babo!” Kai mendekati Sehun dan mengacak rambut sang maknae, “Ayo ikut aku”

Sehun semakin bingung, “Kemana?”

“Sudahlah, ikut saja denganku.”

Kai menarik tangan Sehun dan Sehun hanya mengikuti langkah Kai. Kai membawanya ke belakang gedung SM. Dimana tidak ada orang disana. Sehun melihat kearah sekitar, mencoba mencari tau ada apa sebenarnya.

“Aku masuk sebentar. Tunggu disini” Sehun mengangguk dan Kai segera masuk kembali ke gedung SM.

Sehun duduk dibawah ring bola basket yang memang ada di lapangan belakang gedung SM. Sehun terus melihat kearah sekitar. Dia mencari sesuatu yang mungkin mencurigakan. Karena memang sikap Kai mencurigakan untuknya.

Saat Sehun menatap kearah depan, dia melihat sosok orang yang entah siapa. Sehun menatapnya datar, orang itu tersenyum padanya. Orang itu juga melambaikan tangan padanya. Sehun bangkit sembari mengusap matanya. Dia mencoba melihat lebih jelas siapa orang itu. Sehun membelalakkan matanya dengan sangat terkejut. Itu.. Luhan!

Oh Sehun! Kau pasti sudah gila! Apa yang kau bayangkan? Kau membayangkan Luhan hyung ada didepanmu? Aish, kau pasti jelas sudah gila! Sehun bodoh! Tidak berguna! Sehun mulai marah pada dirinya sendiri. Dia mencoba memastikan lagi. Dia mengusap matanya menggunakan pakaiannya, menengok kearah depan lagi. Sosok yang mirip Luhan itu hilang. Sehun mendesah, aku benar-benar sudah gila!

Sehun pun menyandarkan tubuhnya di tiang ring. Dia memejamkan matanya, mencoba mengingat Luhan. Dia sangat merindukan Luhan. Entah seberapa rindu, yang jelas dia sangat merindukan hyungnya yang terlihat seperti maknae itu. Dan tiba-tiba Sehun merasakan bibir seseorang menempel pada bibirnya. Sehun tau, ini pasti hanya mimpinya. Ciuman itu kemudian berhenti. Sehun menangis, “Aku merindukan ciuman itu. Aku ingin merasakannya lagi. Luhan, aku merindukanmu” dengan mata terpejam itu, Sehun terus menangis.

“Sehun,”

Sehun mendengar suara seseorang. Suara yang sudah setahun lamanya tidak dia dengar. Suara yang dia rindukan. Suara milik… Luhan!

Sehun membuka matanya, disana dia mendapati sosok Luhan berdiri sembari tersenyum dan melambai padanya, “Annyeong~ Merindukanku? Aku juga” Sehun tidak percaya ini. “Aku pasti sudah gila. Hyung, kau membuatku gila. Hentikan ini. Aku tidak mau menjadi gila” Sehun menggeleng keras sembari menangis. Luhan pun memeluk Sehun, “Aku disini Sehun. Aku nyata. Aku.. sangat merindukanmu” Sehun dapat merasakan pelukan Luhan. Sehun mencoba membalas pelukan Luhan. Dan benar, dia dapat memeluk Luhan. Ini bukan imajinasinya. Luhan nyata, dia ada bersama Sehun!

Sehun segera memeluk Luhan erat setelah mengetahui bahwa Luhan memang sedang memeluknya. Sehun menangis keras. Luhan menitikkan air matanya. Sehun melepas kerinduannya selama setahun ini. Dia benar-benar merindukan Luhan.

“Aku kembali” Luhan tersenyum setelah Sehun melepaskan pelukannya

“Aku tau, dan aku sangat senang mengetahuinya” Sehun ikut tersenyum

Luhan tertawa kecil melihat senyuman Sehun, “Sehun, aku mempersiapkan surprise kecil untukmu”

Sehun tertawa, “Surprise apa?”

“Ikutlah denganku” Luhan tersenyum sembari menarik tangan Sehun. Luhan membawa Sehun ke kamar Sehun. Sehun merasa bingung kenapa Luhan membawanya ke kamarnya. Dan saat Luhan membuka pintu kamarnya, Sehun terkejut melihat foto HunHan terpasang di seluruh tembok. Bahkan tempat tidurnya dihiasi taburan bunga mawar yang indah. Ada satu lilin kecil menghiasi meja kecil di pinggir tempat tidur. Sehun melihat sekitar dengan senyuman, “Gomawo” katanya sembari memeluk Luhan

“Luhan,” Sehun melepas pelukannya

Luhan menatap Sehun, “Ada apa?”

“Boleh aku memanggilmu Luhan saja? Tanpa hyung?”

Luhan tersenyum, “Baiklah, aku juga lebih menyukai tanpa hyung”

Sehun ikut tersenyum mendengarnya, “Luhan..”

“Ya?”

“Kau.. mm..”

“Ada apa Sehun?”

“Kau.. mau melakukannya?” tanya Sehun dengan muka memerah. Dia malu

Luhan tertawa kecil, “Um.. aku mau” pipi Luhan memerah. Dia juga malu

Sehun tertawa, kemudian dia mulai mengunci pintu kamarnya dan menciumi leher Luhan. Luhan merasakan kenikmatan tersendiri dengan perlakuan Sehun itu. Kemudian Sehun mulai mencium bibir Luhan dengan nikmatnya. Ciuman itu kembali lagi. Rasa mint dalam mulut Luhan kembali dapat Sehun rasakan. Kelembutan bibir Luhan yang selama ini dia rindukan, dapat dia rasakan kembali.

Sehun kembali untuk mencoba membuka pakaian Luhan. Kali ini Luhan mengijinkannya. Masih dengan ciuman panas itu, pakaian Luhan terlepas.

“Kau mengijinkannya kali ini” kata Sehun melepas ciumannya

“Tentu saja” jawab Luhan tersenyum dan kembali melanjutkan ciuman itu

Segera Sehun mendorong Luhan ke tempat tidurnya. Sehun membuka seluruh pakaiannya. Tubuhnya segera menempatkan posisi yang enak untuk Luhan. Ciuman itu kembali terjadi. Setelah dirasa lelah melakukan ciuman itu, Sehun berhenti sejenak. Luhan tersenyum malu menatap wajah Sehun.

“Kau siap melakukannya?” tanya Sehun dengan muka memerah sembari membelai rambut Luhan

Luhan tersenyum manis, “Iya, lakukanlah”

Malam itu adalah malam yang sangat bahagia untuk HunHan. Mereka mendapatkan cinta mereka. Kai yang berada didepan kamar mereka tersenyum.

“Nikmatilah malam kalian, HunHan”

-END-

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.